Setiap lini produk punya cara pakai yang berbeda. Pilih produk yang Anda gunakan, lalu ikuti langkahnya dari persiapan sampai perawatan rutin.
Semua produk kami berbahan serat alami berdaya serap dan berpori tinggi, tetapi cara menyiapkan dan merawatnya berbeda-beda. Pilih salah satu di bawah ini.
Untuk kebun rumah, hidroponik, nursery, dan pertanian. Tersedia kemasan 5 dan 7 liter.
Lihat panduanAlas kandang unggas, kambing, dan sapi: ketebalan tebaran, perawatan harian, dan waktu penggantian.
Lihat panduanCampuran media tanam untuk tanaman hias dan pot: takaran per jenis tanaman, cara membilas, dan perawatannya.
Lihat panduanPanduan menyiapkan media tanam curah siap pakai, mencampur sesuai jenis tanaman, sampai perawatan setelah tanam.
Siapkan seluruh kebutuhan berikut sebelum mulai agar proses tidak terputus di tengah jalan. Semua bahan mudah didapat dan tidak memerlukan peralatan khusus.
Lima langkah di bawah ini berlaku untuk media tanam curah siap pakai Fibrit, baik kemasan 5 liter maupun 7 liter.
Media tanam Fibrit sudah berbentuk curah dan siap pakai, jadi tidak perlu direndam lebih dulu. Tuang media dari kemasan ke wadah yang cukup lebar, secukupnya sesuai jumlah pot yang akan diisi.
Gemburkan media dengan tangan atau sekop kecil supaya gumpalan sisa pemadatan di dalam kemasan terurai dan rongga udaranya kembali terbuka. Cek kelembapannya: bila digenggam menggumpal tetapi tidak meneteskan air, kadar airnya sudah pas.
Campurkan media dengan kompos, sekam bakar, atau pumice mengikuti tabel takaran di bawah. Aduk hingga warna dan teksturnya merata agar nutrisi tersebar seragam.
Masukkan media ke dalam pot atau polybag, sisakan ruang 2–3 cm dari bibir pot supaya air siraman tidak meluber. Padatkan seperlunya saja — media yang terlalu padat menghambat sirkulasi udara di zona akar. Buat lubang tanam, letakkan bibit, lalu tutup dan siram tipis.
Setelah tanam, letakkan di tempat teduh selama 2–3 hari agar tanaman beradaptasi, baru pindahkan ke lokasi dengan sinar matahari sesuai kebutuhan tanaman. Jaga kelembapan, jangan sampai media mengering total.
Perbandingan berikut memakai satuan volume (bukan berat) dan sudah diuji pada kondisi iklim tropis. Sesuaikan sedikit bila lokasi Anda lebih lembap atau lebih kering.
| Jenis Tanaman | Komposisi Campuran | Frekuensi Siram | Catatan |
|---|---|---|---|
| Sayuran daun (sawi, bayam, kangkung) |
2 media : 1 kompos : 1 sekam bakar | 1–2× sehari | Butuh nitrogen tinggi, tambah pupuk cair tiap 10 hari. |
| Sayuran buah (cabai, tomat, terong) |
2 media : 1 kompos : 1 pupuk kandang | 1× sehari | Tambahkan dolomit bila pH tanah cenderung asam. |
| Tanaman hias daun (monstera, aglonema) |
1 media : 1 sekam bakar : 1 pumice | 2–3× seminggu | Utamakan porositas, hindari media terlalu padat. |
| Kaktus & sukulen | 1 media : 2 pasir malang / pumice | 1× seminggu | Pastikan drainase sangat lancar agar akar tidak busuk. |
| Anggrek | Serat kasar / potongan serat 100% | 2× seminggu | Gunakan pot berlubang banyak, hindari media halus. |
| Hidroponik & semai | 1 media : 1 sekam bakar | Sesuai sistem | Cuci media dulu hingga EC di bawah 0,5 mS/cm. |
Media tanam berbahan serat menahan air lebih lama dibanding tanah biasa, sehingga pola penyiraman perlu disesuaikan. Cek kelembapan dengan menekan permukaan media sedalam 2 cm memakai jari: bila masih terasa lembap, tunda penyiraman.
Berikan nutrisi tambahan setiap 10–14 hari karena media serat murni memiliki kandungan hara yang rendah. Pupuk organik cair, NPK larut air, atau kompos yang ditaburkan tipis di permukaan sama-sama bekerja baik. Gemburkan permukaan media sebulan sekali agar tidak memadat, dan ganti sebagian media setiap 6–12 bulan untuk tanaman dalam pot.
Media yang belum dipakai sebaiknya disimpan dalam kemasan tertutup, di tempat kering dan teduh, serta tidak bersentuhan langsung dengan lantai. Dalam kondisi kering, media dapat bertahan lebih dari dua tahun tanpa penurunan kualitas.
Untuk media yang sudah dibuka namun tidak habis terpakai, tutup kembali kemasannya dan simpan di tempat kering. Bila media sempat terkena air atau terasa basah, angin-anginkan dulu sampai lembap merata sebelum disimpan — media basah yang disimpan rapat tanpa udara berisiko berjamur dan berbau.
Tidak perlu. Isi kemasan sudah berupa media curah siap pakai, jadi langsung bisa dituang, digemburkan, lalu dicampur sesuai kebutuhan. Perendaman hanya diperlukan pada media berbentuk blok padat, dan itu bukan bentuk yang kami jual.
Media kami sudah melalui proses pencucian pabrik sehingga kadar garamnya rendah. Namun untuk sistem hidroponik yang sensitif, disarankan membilas ulang satu sampai dua kali dan mengukur EC hingga di bawah 0,5 mS/cm sebelum digunakan.
Bisa. Setelah panen, ayak media untuk membuang sisa akar, jemur 1–2 hari untuk mengurangi patogen, lalu campurkan media lama dengan media baru dengan perbandingan 1:1 dan tambahkan kompos segar.
Penyebab paling umum adalah kekurangan nitrogen, karena media serat murni memang miskin hara. Tambahkan pupuk cair atau kompos. Penyebab lain adalah penyiraman berlebihan yang membuat akar kekurangan oksigen — pastikan drainase pot lancar.
Aman. Media kami berbahan serat alami tanpa campuran bahan kimia berbahaya dan telah melalui proses pengeringan serta penyortiran, sehingga cocok untuk sayuran, buah, maupun tanaman herbal konsumsi.
Panduan menebar dan merawat alas kandang agar lantai lebih kering, bau amonia tertekan, dan pembersihan lebih ringan.
Alas Hewan Ternak Fibrit dibuat dari serat alami berdaya serap tinggi. Butiran seratnya menyerap urine dan kelembapan, lalu menguapkannya kembali lewat pori-pori serat. Dengan ventilasi kandang yang lancar dan perawatan harian yang rutin, lantai kandang lebih cepat kering dan bau amonia lebih terkendali — seberapa besar hasilnya tetap bergantung pada kepadatan ternak, cuaca, dan kebersihan kandang, bukan pada alas semata. Panduan ini merangkum pemakaiannya secara berurutan: menyiapkan lantai, menentukan ketebalan tebaran per jenis ternak, merawat harian, menentukan kapan ganti sebagian atau ganti total, sampai mengolah alas bekas pakai jadi kompos. Dirawat mengikuti urutan ini, frekuensi ganti total umumnya bisa ditekan.
Keluarkan alas lama beserta kotoran yang menempel, lalu sapu dan sikat lantai sampai bersih. Bila kandang baru dikosongkan, semprot desinfektan mengikuti dosis dan waktu tunggu yang tertera pada label produknya, kemudian biarkan lantai benar-benar kering sebelum ditebar alas baru. Lantai yang masih basah membuat lapisan paling bawah cepat menggumpal walaupun alasnya baru ditebar.
Cek atap, dinding, dan saluran air minum sebelum mulai menebar. Tetesan dari tempat minum atau bocoran atap adalah penyebab paling sering munculnya titik basah yang menggumpal lebih dulu daripada bagian lain. Pastikan udara bisa mengalir supaya uap air yang dilepas alas terbawa keluar, bukan mengendap di dalam kandang. Kecepatan kering dan tingkat bau di kandang lebih ditentukan oleh ventilasi dan kepadatan ternak daripada oleh alasnya sendiri.
Tuang alas dari beberapa titik, lalu ratakan dengan garpu atau sekop sampai ketebalannya seragam di seluruh lantai. Untuk kandang lantai, ketebalan awal berkisar 5–20 cm tergantung jenis ternak — rinciannya ada di tabel. Untuk baki penampung kandang baterai cukup 1–3 cm, dan untuk kolong kandang panggung cukup 3–5 cm karena fungsinya hanya menampung, bukan menjadi alas pijak. Jangan dipadatkan atau diinjak-injak; serat yang tetap gembur itulah yang menyerap dan melepas uap air dengan baik.
Sekali sehari, biasanya pagi setelah pembersihan tempat pakan, aduk permukaan alas dengan garpu sedalam beberapa sentimeter. Balik bagian yang mulai memadat supaya udara masuk dan sisi yang basah terangkat ke atas untuk kering. Area di sekitar tempat minum, tempat pakan, dan sudut kandang butuh perhatian ekstra karena paling cepat lembap.
Bila ada bagian yang tetap lembap atau mulai menggumpal, angkat dulu gumpalannya lalu tutup dengan alas baru setebal 1–5 cm sesuai jenis ternak. Cara ini lebih hemat daripada membongkar seluruh lantai, dan bau di titik itu umumnya berkurang di hari yang sama. Selangnya berbeda-beda — dari harian untuk sapi dan kerbau sampai tiap 7–10 hari untuk ayam petelur, ayam kampung, kambing, dan domba; ikuti tabel dan jangan menunggu sampai bau amonia terasa menyengat. Untuk puyuh di kandang baterai, isi baki penampung diganti tiap 2–3 hari, bukan ditambah di atasnya.
Ganti seluruh alas ketika sebagian besar lantai sudah menggumpal keras, bau amonia langsung terasa begitu pintu kandang dibuka, atau permukaan tidak pernah kering lagi walau sudah diaduk. Selang ganti total berkisar sekitar 3 minggu sampai 3 bulan tergantung jenis ternak (kecuali baki kandang baterai yang isinya diganti tiap 2–3 hari) — rinciannya ada di tabel. Kosongkan kandang, bersihkan lantai seperti langkah pertama, lalu tebar alas baru. Alas bekas pakai yang sudah bercampur kotoran ternak bisa diolah jadi kompos: tumpuk di tempat teduh dengan ukuran tumpukan minimal sekitar 1 x 1 x 1 m supaya bagian dalamnya bisa memanas, jaga kelembapannya, tutup terpal, dan balik setiap 7–10 hari. Bagian dalam tumpukan yang terasa panas menandakan prosesnya berjalan. Umumnya sekitar 4–8 minggu teksturnya menjadi remah dan tidak lagi berbau tajam.
| Jenis Ternak | Ketebalan Awal | Penambahan Lapisan | Ganti Total |
|---|---|---|---|
| Ayam pedaging (broiler) | 5–8 cm | 1–2 cm di titik basah, tiap 5–7 hari | Tiap akhir periode pemeliharaan (umumnya 5–6 minggu) |
| Ayam petelur & ayam kampung (sistem litter) | 8–10 cm | 2–3 cm, tiap 7–10 hari | Sekitar 2–3 bulan |
| Anak ayam / masa brooding | 6–10 cm (pilih yang lebih tebal bila lantai semen atau suhu dingin) | 1–2 cm, tiap 3–5 hari | Saat pindah ke kandang pembesaran |
| Itik (sistem lantai) | 6–10 cm | 2–3 cm, tiap 3–5 hari | Sekitar 3–4 minggu |
| Puyuh (baki penampung kandang baterai) | 1–3 cm di baki | Isi baki diganti tiap 2–3 hari | Mengikuti penggantian isi baki — tidak memakai litter lantai |
| Kambing & domba | 10–15 cm | 3–5 cm, tiap 7–10 hari | Sekitar 1–2 bulan |
| Sapi & kerbau | 15–20 cm | ±5 cm di area istirahat, harian atau tiap 2–3 hari sesuai kepadatan | Sekitar 3–6 minggu |
Angka di tabel ini adalah titik awal untuk kandang lantai dan baki baterai; sesuaikan dengan kepadatan ternak, cuaca, dan kondisi lantai — patokan sebenarnya adalah permukaan alas harus selalu kering dan tidak licin.
Simpan sisa alas dalam kemasan tertutup rapat di tempat teduh dan kering, jauh dari tampias hujan maupun uap lembap yang keluar dari kandang. Ganjal karung dengan palet atau papan supaya tidak menempel langsung ke lantai. Dalam kemasan tertutup dan kondisi kering, daya serapnya relatif stabil selama penyimpanan, tetapi tetap cek kondisinya sebelum dipakai — pastikan tidak lembap, tidak menggumpal, dan tidak berbau apek. Kalau sempat basah, bongkar dan angin-anginkan sampai benar-benar kering sebelum ditebar. Namun bila sudah muncul bercak jamur, menggumpal, atau berbau apek, jangan dipakai di kandang — terutama untuk anak ayam — karena spora jamur dapat memicu gangguan pernapasan pada ternak maupun pekerja; arahkan ke tumpukan kompos saja.
Sangat bergantung jenis ternak, kepadatan kandang, dan cuaca. Mengikuti tabel di atas: ayam petelur dan ayam kampung sistem litter umumnya 2–3 bulan, kambing dan domba sekitar 1–2 bulan, broiler tiap akhir periode pemeliharaan (umumnya 5–6 minggu), sapi dan kerbau sekitar 3–6 minggu, itik sekitar 3–4 minggu, sedangkan alas di kandang brooding diganti saat anak ayam pindah ke kandang pembesaran. Untuk puyuh di kandang baterai, hitungannya bukan ganti total melainkan penggantian isi baki tiap 2–3 hari. Perawatan harian yang rajin — mengaduk lapisan dan menambah alas di titik basah — umumnya membuat pemakaian bertahan di sisi atas rentang tersebut.
Ada tiga tanda yang paling mudah dikenali: alas menggumpal keras dan tidak bisa diuraikan lagi dengan garpu, bau amonia langsung menyengat saat pintu kandang dibuka, dan permukaannya tetap lembap meski sudah diaduk sehari sebelumnya. Kalau tanda ini muncul di sebagian besar lantai, lakukan ganti total; kalau hanya di beberapa titik, cukup angkat dan ganti bagian itu saja.
Tidak perlu. Alas ditebar dalam kondisi kering supaya daya serapnya penuh sejak hari pertama. Kalau kebetulan stoknya sempat terkena tampias hujan, angin-anginkan dulu sampai benar-benar kering sebelum masuk kandang. Kalau sudah terlanjur berjamur, menggumpal, atau berbau apek, jangan dipaksakan masuk kandang — arahkan saja ke tumpukan kompos.
Bisa, tetapi fungsinya berbeda. Di kandang panggung, alas ditebar di kolong sebagai penampung kotoran dan cairan — cukup tipis, sekitar 3–5 cm, dan ditambah begitu mulai jenuh. Angka ketebalan di tabel disusun untuk alas yang bersentuhan langsung dengan ternak di kandang lantai, jadi jangan dipakai untuk lapisan kolong. Keluarkan tumpukan kolong secara rutin supaya tidak menjadi sarang lalat dan larva serta sumber amonia yang naik ke lantai ternak di atasnya, dan pastikan kolong tetap punya aliran udara.
Sebaiknya dikomposkan dulu. Tumpuk bersama kotoran ternak dengan ukuran tumpukan minimal sekitar 1 x 1 x 1 m supaya bagian dalamnya bisa memanas, jaga kelembapannya kira-kira seperti spons yang sudah diperas, tutup terpal, lalu balik tiap 7–10 hari. Setelah sekitar 4–8 minggu teksturnya jadi remah dan baunya seperti tanah. Pakai sarung tangan dan masker saat menumpuk dan membalik. Perlu diingat, tekstur remah menandakan kompos sudah jadi secara fisik, bukan jaminan bebas patogen — kompos dari kotoran ternak bisa membawa Salmonella, E. coli, dan telur cacing, jadi pastikan tumpukan benar-benar sempat memanas dan matang penuh, dan untuk sayuran yang dimakan mentah beri jeda beberapa minggu antara pemupukan dan panen. Alas bekas dari kandang yang sedang terkena wabah jangan dikomposkan maupun disebar; ikuti arahan petugas kesehatan hewan setempat.
Panduan memakai arang sebagai campuran media tanam supaya akar tetap mendapat udara dan media tidak cepat becek.
Arang Tanaman Fibrit berbentuk butiran halus yang seragam dan dipakai sebagai campuran media tanam, bukan sebagai media tunggal. Butirannya yang berongga menjaga rongga udara di dalam pot supaya media tidak cepat memadat, dan porinya menahan sebagian air lalu melepasnya perlahan sehingga kelembapan di zona akar lebih rata. Satu hal yang perlu diluruskan sejak awal: kelancaran air keluar dari pot ditentukan oleh lubang pot yang terbuka dan porositas seluruh media, bukan oleh satu lapisan bahan kasar di dasar pot. Panduan ini menjelaskan urutan pakainya, dari membilas sampai menentukan kapan arang perlu ditambah atau diganti.
Isi ember dengan air lebih dulu, baru tuang arang pelan-pelan; menuang ke air jauh lebih menekan debu daripada menuang arang kering ke ember kosong. Aduk pelan, lalu buang airnya. Ulangi dua sampai tiga kali sampai air bilasan tidak lagi keruh. Air bilasan arang praktis tidak pernah benar-benar bening, jadi patokannya cukup sampai tidak keruh, bukan sampai jernih. Sisa serbuk halus dari proses pengemasan dan pengangkutan selalu ada, dan serbuk itulah yang menyumbat pori serta membuat permukaan media cepat memadat.
Pindahkan arang ke saringan atau keranjang tiris dan biarkan air berlebih turun sekitar 15 sampai 30 menit di tempat teduh berangin. Tidak perlu dijemur di bawah matahari terik. Kondisi yang dicari adalah lembap dan tidak menetes lagi saat digenggam. Bedakan dua konteks ini: di dalam pot, arang melepas air simpanannya perlahan sehingga ikut menyangga kelembapan zona akar; sedangkan di udara terbuka, air yang menempel di permukaan butiran memang cepat turun. Karena itu arang yang akan disimpan kembali harus dikeringkan sampai benar-benar kering, bukan sekadar lembap.
Cara pakai utamanya adalah mengaduk arang bersama seluruh media supaya rongga udara tersebar sampai ke tengah perakaran, bukan menumpuk di satu titik. Air keluar lancar karena dua hal: lubang pot yang benar-benar terbuka dan porositas media secara keseluruhan. Lapisan bahan kasar di dasar pot tidak memperbaiki drainase. Pada batas antara dua bahan dengan ukuran pori berbeda, zona jenuh air justru tertahan di atas lapisan itu dan posisinya naik mendekati akar, sekaligus memakan ruang akar.
Ikuti perbandingan pada tabel di bawah dengan satuan volume, yaitu gayung, gelas, atau sekop yang sama, bukan satuan berat. Aduk sampai butiran arang terlihat tersebar rata dan tidak menumpuk di satu sisi pot. Karena butirannya halus, arang ini berperan sebagai campuran penambah rongga, bukan sebagai media utama. Untuk tanaman penyuka media masam seperti blueberry, azalea, atau camellia, pakai porsi arang lebih kecil dari tabel, sekitar satu bagian arang berbanding lima bagian media tanam, lalu pantau responsnya.
Periksa kondisi arang saat menyiram dalam beberapa minggu pertama, setelah itu cukup saat mengganti pot. Tanda arang perlu ditambah atau diganti: butirannya mudah remuk jadi remah ketika dipijit, air siraman turun lebih lambat dari biasanya, atau permukaan media terasa padat. Pada pemakaian normal, arang cukup ditambah tipis setiap 6 sampai 12 bulan dan diganti bersamaan dengan pergantian media setiap 1 sampai 2 tahun. Arang bekas boleh dipakai ulang dengan syarat: ayak dulu untuk membuang remah dan sisa akar, bilas sampai air bilasan tidak lagi keruh, keringkan sepenuhnya, lalu campur dengan arang baru kira-kira satu banding satu.
| Jenis Tanaman | Perbandingan Campuran | Catatan |
|---|---|---|
| Tanaman hias daun (monstera, aglonema, philodendron) | 1 arang : 3 media tanam | Campur merata agar media tetap gembur sampai ke tengah pot. |
| Sayuran pot dan tanaman buah dalam pot | 1 arang : 4 media tanam : 1 kompos matang | Porsi arang dijaga kecil karena kelompok ini butuh media yang menahan air lebih lama. |
| Semaian dan pot mungil di bawah 10 cm | 1 arang : 4 media tanam | Akar semaian masih halus, jadi media tidak boleh terlalu cepat kering. |
| Kaktus dan sukulen dewasa | 1 arang : 3 pumice atau pasir malang : 1 media tanam | Utamakan bahan berpori. Jangan memakai lapisan di dasar pot pada kelompok ini. |
| Pot gantung dan hoya | 1 arang : 3 media tanam | Pot gantung memang mengering lebih cepat, jadi porsi arang tidak perlu ditambah. |
| Anggrek dan tanaman epifit | 1 arang : 4 media kasar khusus anggrek | Media kasar tetap jadi bahan utama. Arang halus hanya campuran kecil pengisi rongga, bukan media tunggal. |
| Tanaman penyuka media masam (blueberry, azalea, camellia) | 1 arang : 5 media tanam | Porsi paling kecil, lalu pantau pertumbuhannya sebelum menambah. |
Perbandingan memakai satuan volume, misalnya gayung atau gelas yang sama, bukan satuan berat. Angka di tabel adalah titik awal; sesuaikan bila media di tempat Anda terasa terlalu cepat kering atau justru terlalu lama basah.
Simpan sisa arang dalam kemasan yang ditutup rapat di tempat kering dan sejuk, jauh dari sinar matahari langsung dan tampias hujan. Dalam kondisi kering dan tertutup, arang jauh lebih stabil dibanding media yang mudah terurai, tetapi di dalam pot butirannya tetap akan mengecil seiring waktu sehingga perlu ditambah berkala. Bila arang sempat basah, angin-anginkan sampai benar-benar kering sebelum disimpan; arang lembap yang disimpan rapat berisiko berjamur dan berbau apak, dan bila sudah begitu sebaiknya tidak dipakai.
Dua alasan. Pertama, serbuk halus yang tersisa dari pengemasan dan pengangkutan bisa menutup pori dan membuat permukaan media cepat memadat, sehingga air siraman lambat turun. Kedua, membilas sekaligus membasahi pori dari dalam, jadi arang tidak menyerap air siraman secara berlebihan pada hari-hari pertama setelah tanam. Bilas dua sampai tiga kali sampai air bilasan tidak lagi keruh; jangan menunggu sampai benar-benar bening karena air bilasan arang memang tidak akan sejernih itu. Pakai masker debu saat menuang arang kering, dan isi ember dengan air lebih dulu supaya debunya tidak beterbangan.
Bisa, tetapi hanya sebagai campuran kecil, bukan media utama. Butiran arang ini halus dan seragam, sedangkan akar anggrek menuntut rongga besar supaya cepat kering setelah disiram. Media halus menahan air terlalu lama di sekitar akar dan berisiko membuatnya membusuk. Pakai media kasar khusus anggrek sebagai bahan utama, lalu tambahkan arang sekitar satu bagian berbanding empat bagian media kasar untuk mengisi rongga. Kalau Anda mencari media yang seluruhnya berbutir besar untuk anggrek, produk ini bukan pilihan yang tepat.
Campur merata. Lapisan bahan kasar di dasar pot tidak memperlancar keluarnya air; justru sebaliknya, zona jenuh air tertahan di batas antara media halus dan lapisan kasar, lalu posisinya naik mendekati akar, sementara ruang akar berkurang. Yang benar-benar menentukan air cepat keluar adalah lubang pot yang terbuka dan porositas seluruh media. Pada kaktus dan sukulen, lapisan dasar sebaiknya dilewati sama sekali.
Untuk sebagian besar tanaman hias dalam pot, satu bagian arang berbanding tiga bagian media tanam sudah cukup. Kelompok yang butuh media lebih lembap seperti sayuran pot dan semaian memakai porsi lebih kecil, sekitar satu berbanding empat. Kaktus dan sukulen justru mengandalkan bahan berpori lain seperti pumice, dengan arang sebagai pelengkap. Tabel takaran di atas merinci per jenis tanaman. Kalau media terasa terlalu cepat kering setelah dicampur, kurangi porsi arang pada pencampuran berikutnya.
Ganti atau tambahkan saat butirannya sudah mudah remuk jadi remah ketika dipijit, air siraman turun lebih lambat, atau media terasa padat. Pada pemakaian normal, arang cukup ditambah tipis setiap 6 sampai 12 bulan dan diganti bersamaan dengan pergantian media setiap 1 sampai 2 tahun. Arang bekas bisa dipakai ulang, tetapi hanya dari pot yang tanamannya sehat: ayak untuk membuang remah dan sisa akar, bilas sampai air bilasan tidak lagi keruh, keringkan sepenuhnya, lalu campur dengan arang baru sekitar satu banding satu. Arang dari pot yang tanamannya pernah busuk akar, berjamur, atau berhama sebaiknya dibuang saja.
Pada campuran biasa seperti satu arang berbanding tiga media, tidak perlu perlakuan khusus; kebiasaan siram normal sudah cukup. Perhatian ekstra baru diperlukan bila porsi arang sangat besar dan tanaman dipupuk rutin lewat air siraman, karena sisa garam pupuk bisa menumpuk di dalam pori. Dalam kondisi itu, sesekali siram dengan air bersih tanpa pupuk sampai air keluar dari dasar pot agar sisa garamnya ikut terbawa.
Ceritakan kebutuhan Anda, tim kami bantu rekomendasikan produk dan takarannya.
Konsultasi Gratis